Lahirnya Bidadri Senja

August 17th, 2008 by anggrahini-kd

Aku jatuh. Tentu saja sakit. Tapi aku mencoba bangkit. Jika hari ini aku ditakdirkan menjadi pecundang, ku harap aku mampu menjadi pecundang yang paling gagah. Karenanya, aku menarik nafas panjang dan bertahan dari kesakitan. Aku akan bangun! Aku bisa bangun. Persetan dengan luka-luka itu! Arrgh, tubuhku luruh, tapi aku tak mau jatuh. Aku akan tetap berusaha bangun. Sakit, tapi kuabaikan. "Ada apa dengan pundakmu?" seseorang bertanya, dan seketika aku menyadarinya. Aku punya sayap!
Aku lupa dengan luka-luka. Senja di barat telah mengantarkan bayang-bayang kembali pulang. Sudah waktunya memecah cangkang inferioritas. Sudah waktunya merangkak keluar dari jebakan kesakitan itu. Aku tak mau malam memadamkanku. Senja boleh berlalu, malam boleh datang sepanjang waktu, tapi mataku akan tetap menyalakan matahari.
Aku mengepakkan sayap. Tidak ada yang mengajariku terbang, namun intuisi membantuku untuk menyalakan obor-obor keyakinan. Aku punya sayap. Tidak ada alasan untuk mengabaikannya!
Kau bilang, intuisi tak punya pondasi. Bahkan, kau acap kali abai dengan kata hati yang ku teriakkan. Aku meredam ketidakberdayaanku menghadapimu. Hanya saja, aku tidak akan membiarkanmu memelihara luka-luka itu. Aku akan menjadi bidadari senja yang menyembuhkanmu…
Aku dan kamu satu dalam diriku. Aku dan kamu adalah aku; pecundang paling gagah yang belajar menjadi bidadari…

Lomba, Proyek, dan Citcil

June 19th, 2008 by anggrahini-kd

Kabar baiiiik… Alhamdulillah, 11 Juni lalu aku mempersembahkan runner up duta bahasa Jateng. Konon, selisih skornya tipis. Ya, memang sudah ‘dijatah’ dapat nomor dua… So what?
Yuppy, meski gagal maju ke tingkat nasional, tapi, ajang duta bahasa kemarin benar-benar asyik! Di karantina dua hati di Bandungan bareng teman-teman dari seluruh penjuru Jawa Tengah yang rata-rata jebolan Duta Wisata bikin aku ‘tenggelam’. Tinggi badanku relatif ‘pendek’! haha..
Meski tinggi badan tenggelam, hasilnya nggak tenggelam-tenggelam amat kok.. Alhamdulillah, presentasi tiga bahasa dari makalahku yang berjudul ‘Fenomena Tindak Tutur Cinta Laura; Cermin Ketidakpercayaan Diri Berbahasa Indonesia’ mampu menyenangkan juri. Buktinya, waktu presentasiku terhitung paling lama. Apesnya, untuk pertanyaan budaya, aku ngeper! Salah tokoh, bo!
Ohya, ada kabar baru. Kolomku di halaman remaja Suara Merdeka pindah rumah. Kalau dulu gabung di halaman remaja bertajuk ‘Inspirasi’, sekarang nyaman bersandar di halaman Inspirasi, nama kolomnya ‘thing’. Masih bisa dinikmati setiap minggu di harian perekat Jawa Tengah Suara Merdeka.
Pfuih… Akhir-akhir ini pikiran dan tenaga sedang terfokus pada UAS. Kondisi badan jadi kurang fit karena pengaturan waktu yang payah! Tugas banyak yang belum kelar, banyak kerjaan pula! Bukankah rejeki pantang ditolak? hehe.. Jadi, walaupun pusing ujian, proyek jalan terus.. Akibatnya, jadwal makan jadi kacau balau, istirahat berkurang, tiap malam begadang.
Dua minggu belakangan, aku menemukan ‘aliansi’. Akhirnya, aku menemukan ‘partner’ berkreasi yang klik! Bersama empat kawan sejurusan, kami akan segera menggarap novel marathon. Bukan tentang cinta… Ya, tunggu saja tanggal mainnya.
Empat kawan dengan karater yang berbada-beda bersatu untuk mewujudkan ‘cita-cita’ bersama. Kombinasi jurnalis, penyair, politisi, dai, dan ‘EGP’ oriented. Semoga diferensiasi ini makin memperkaya (calon) novel kami kelak. Amin…
Oiya, ada kabar buruk juga…. hiks… kucingku tercinta, Si Citcil, tempo hari ditemukan terkapar di depan pintu dalam keadaan mengenaskan. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat, tubuhnya lumpuh… Korban tabrak lari, mungkin. Tapi, alhamdulillah, semalam aku dapat kabar dari mami, Citcil sudah bisa berdiri lagi, walaupun masih lemes.. kasiaaaaan… hiks… Padahal biasanya dia lincah banget…
Citcil juga jadi males maem. Tiap hari cuma dikasih susu Dancow atau ‘pindang blender’ lewat suntikan printer yang dimodifikasi jadi dot multiguna.
Citcil, cepat sembuh ya… Kakak doain, kakinya bisa buat lari-lari lagi…

sebuah paradoks dan persahabatan

May 14th, 2008 by anggrahini-kd

Semalam, sorak sorai bersahutan memenuhi ruang. Ada magnet di teve. Thomas Cup. Teriakan-teriakan yang bersahutan dan berujung kegembiraan menyambangi setiap rumah. Riuh dan ramai.
Ada seorang perempuan kesakitan di sudut kamarnya. Meringis sendirian, merintih tanpa kawan. Badminton telah menjadi ’simbol patriotisme’ yang terlalu membetot perhatian, hingga semua melupakan perempuan naas yang terpaksa menelan sakitnya seorang diri.
Di antara teriakan yang bising, ada kepala yang berdenyut-denyut mengibarkan bendera putih. Bendera putih yang ditenggelamkan gempita.
Perempuan itu terlalu enggan mengganggu keasyikan teman-temannya. Namun, alarm dalam dirinya terus berbunyi, menandakan pertahanan dirinya yang mulai runtuh.
Ia mengirim empat pesan singkat, dengan isi serupa, mengabarkan ‘kenaasan’ dirinya. SMS itu dikirimkan ke nomor-nomor sahabatnya yang dipilih secara acak. SOS. Barangkali ia tak butuh dibelai, atau dikasihani. Ia hanya ingin seseorang mendengar keluhnya. Hanya mendengar.
Sepuluh menit berlalu, tanpa jawaban satupun. Perempuan itu mencoba husnudzon. Barangkali sahabat-sahabatnya sedang sibuk, tidak ada pulsa, atau belum membuka pesannya.
Perut perempuan itu melilit. Ia baru ingat, dari siang tak ada secuil makanan yang menghampiri tenggorokannya. Kesibukan dan kecapekan telah menelan jadwal makan. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidur. Menenggelamkan diri dalam kesadaran tipis yang mungkin akan mereduksi sakitnya.
Baru sedetik ia memejam. Telepon berdering, ‘Aku di depan. Kamu keluar, ya?’. Bola matanya terbuka lebar. Ternyata Tuhan masih mengirimkan satu orang yang menyelamatkannya.
Sahabat yang datang, memang tidak membalas pesan singkatnya. Lebih dari itu, dia datang dan siap mendengarkan semua keluhan perempuan sakit yang sebelumnya sempat terabaikan. ‘Kawan, sakit adalah alarm. Ketika mulut enggan menyuara, sakitlah yang mewakilinya.’
Perempuan sakit itu tertawa gembira melihat sahabat masa kecil -yang sebenarnya sudah lama ‘terlupakan’- membawa sekantong makanan kesukaan.  Malam itu juga, perempuan naas itu melupakan  rasa sakit di perut dan kepalanya. Pun ’sakit-sakit yang tak pernah tersampaikan’.
‘Nggak nonton Thomas Cup?’ tanya perempuan itu. ‘Nggak. Aku nggak kenal Sonny Kuncoro, juga Taufik Hidayat.’ Perempuan, yang ternyata adalah aku, tersenyum tipis. ‘Kenapa nggak balas SMS aja?’
Sahabat cuma tertawa, ‘Bukan kebiasaanmu meminta bantuan. Jika itu sampai terjadi, artinya kamu membutuhkan lebih dari sekadar SMS.’

*Makasih, Sob… untuk Bakso Mbah Man, tertawamu, dan telingamu..

20 tahun… Sebentar lagi!

May 7th, 2008 by anggrahini-kd

"Siapa yang berhak menerima hadiah saat kamu berulang tahun nanti?" kata seorang kawan. Tentu aku! Dia tertawa. "Mengapa bukan ibumu?" Aku mengerutkan dahi. Mengapa ibuku?
Selama ini aku terlalu egois ternyata. Merasa berhak mendapatkan ‘imbalan’ atas milad yang menimpaku. Mengapa bukan ibuku? Bukankah tanpa pertaruhan nyawa beliau, barangkali aku tak ada? Bukankah dari plasentanya aku mengisap kehidupan dan tidur nyenyak di buaian rahimnya selama berbulan-bulan?
Adalah ibuku. Yang nyaris meregang nyawa demi kehadiranku di dunia. Bukankah beliau lebih berhak?

Pak Supriadi Rustad, Adakah Laptop Untukku?

April 28th, 2008 by anggrahini-kd

Dies natalis UNNES membawa luka! haha.. Murwani Bumi Sekaran ku tonton demi sebuah benda bernama laptop. Naif? No, ini lebih pada motif ekonomis! wakakak.. Di puncak acara, saat game sedang seru-serunya, aku nyaris meraih benda itu. Tapi… lirikan pembantu rektor bidang akademik itu menyurutkan langkah… huhu.. Pak, masih dendamkah kau padaku?
(Pak PR II, apakah Anda masih ingat dengan mahasiswa yang Anda bentak-bentak di Puskom setahun lalu? Ini saya, Pak! Hiks2.. Maaf, Pak… Ampuuuun… -dulu saya mengajukan pindah jurusan, tapi bapak tidak berkenan. Kalau tidak salah 14 Agt 2007, karena pada saat itu Bapak mengenakan baju Pramuka selepas upacara.-)
Pak, jika bapak masih kurang berkenan, maafkan saya…
Masih adakah laptop untukku, Pak?
Aku mau! hehe..
(’Coz tabunganku ludes lagiiiiiiii…hwuaaa..)

UUD; Ujung-ujungnya Duit

April 16th, 2008 by anggrahini-kd

Anggrahini KD datang lagi…Makaciiiih buat yang udah rela jadi penikmat en apresian kolom inspirasi Suara Merdeka.  Aku nggak nyangka bakal dapet banyak tanggapan en fans! haha… E-mailku pun jadi terisi banyak komen ’bout tulisan-tulisanku yang hadir tiap minggu di halaman remaja SM. Ada yang curhat, sapa-sapa, pengen kenalan, tapi ada juga sih yang skeptis. Nggak papa, tiap orang boleh beda pendapat. Yuppee, banyak juga yang nggak nyangka kalo ternyata aku masih 19 taon. Huehehe.. banyak yang ngira aku dah ‘gede’.

Ohya, minggu kemaren aku kedatangan tamu istimewa yang dibela-belain menempuh perjalanan panjang dari Wonogiri menuju Semarang. Makaciiih ya, udah capek-capek meluangkan waktu.. Makasih buat kedatangannya, juga lele goreng, ayam goreng, en jus apokatnya! hehe.. ;p

Minggu ini, kesehatanku agak ngedrop. Gak tau kenapa, nafsu makan turun drastis. Banyak yang menduga, aku dah capek ndut en lagi diet. Padahal nggak! Aku terlalu cinta ma badan ndutku yang ngegemesin ini loh! Cuma, itu tadi, mendadak nafsu makanku merosot total. Perut rasanya penuuuuh mulu. Kayaknya, BB-ku mulai menurun juga. Ibuku pasti hepi liat perutku rada kempis.. hehe..

Tapi, apapun itu, aku tetep keukeuh maem tiga kali sehari. Walau rasanya eneg banget. Demi vitalitas dan stamina prima. Sayangnya, ternyata aku semakin ngedrop. Walau di kos aku mulai sregep masak biar nggak terlalu banyak menelan pengawet, penyedap, en bahan sintetis laen dari warung-warung.

Duniaku jadi tidur, tidur, dan tidur. Tiba-tiba aku teringat. Dua tahun lalu pankreasku bermasalah. Jangan-jangan……Ah, moga-moga nggak!

Akhirnya…. beberapa hari ini aku hanya terkapar di kamar kos tanpa memberitahu keluarga. Aku nggak mau bikin mereka panik. Aku cuma tidur en nggak kuliah sama sekali.

Dan pelampiasanku adalah…. menulis. Hal yang paling menyenangkan, menenangkan, mengerti, dan menghasilkan uang! hehe..

Blessing in Disguise

March 18th, 2008 by anggrahini-kd

Pagi itu, 16 Maret 2008… Cihuy2! Tulisanku tembus lagi di kolom inspirasi Suara Merdeka. Dua kali berturut-turut sejak rubrik itu di-launch! Jelas seneng bgt2 lah..Apa lagi lum ada ‘orang ketiga’ yang sempet mimpir ke situ. Makasih Om Daktur (Om Budi Maryono)..
Terus, kemarin aku sengaja ikut kuliah Jurnalistiknya Pak Gunawan Budi Susanto (Redaktur Senior SM). Jadi mahasiswa ilegal..hehe.. Ceritanya, pas lagi jalan2, di gazebo aku ngeliat ada perkuliahan yang lagi ngebahas hard news ma soft news gitu. Karena materinya asyik, akhirnya…ikutan ‘ngelesot’ menyusup di antara mahasiswa-mahasiswa resmi..huehehe..
Tapi… di akhir perkuliahan, kebenaran terkuak! Pak Gunawan tahu kalo aku bukan mahasiswanya. Untung beliau nggak marah. Malah, selepas perkuliahan kelar, beliau menyempatkan diri ngobrol ngalor-ngidul en sharing masalah kepenulisan. Pak Gun bilang, kalo saja aku mahasiswanya, pasti bakal dikasih nilai A. Hihi.. Padahal dosen Jurnalistikku yang asli (Pak Achiar, yang juga redaktur SM),  udah mau ngasih nilai A pula! Asyiiikkk… Dan, dari Pak Gunawan lah aku mendapatkan nomor telpon seorang redaktur SM yang membidangi halaman remaja.
Malamnya, tanpa menunggu waktu, aku call redaksi yang dimaksud. Masih sekedar silaturahmi en ngobrol yang ringan-ringan. Itung-itung brainstorming gitu. Tapi… besok Senin, aku diundang dateng ke kantor SM. Kira-kira bakal diapain ya???? hehe..
Yah, moga-moga aja targetku tahun ini tercapai! 10 bukuku diterbitkan en rajin mempublikasikan tulisan ke koran-koran, syukur-syukur dikasih ‘kapling’ sendiri di SM.. (berharap boleh dooong!)
Ohya, Sabtu kemarin aku udah setor naskah. Deadline tercapai. Insyaallah bentar lagi kumpulan dongeng terbit. Moga aja, yang lain segera menyusul secepatnya! Amiiiiin….

Habis Gelap Terbitlah Terang

March 10th, 2008 by anggrahini-kd

Minggu pagi 9 Maret 2008, loper koran datang membawa Si Perekat Komunitas Jawa Tengah alias Suara Merdeka. Seperti biasa, harian itu ku baca untuk menemani sarapan. Di halaman remaja, mataku menangkap ‘Anggrahini KD’ tercantum dalam rubrik paling gress ‘Inspirasi’. Cihuy… usul rubrikku diterima dan tulisanku langsung dilauncing saat itu juga… Horray… Trims banget, Suara Merdeka. Ternyata suaraku didengar!
Suara Merdeka  (SM) adalah media yang mengantarkan aku ke gerbang dunia kepenulisan.  Tulisan pertamaku termuat di  ‘Tren’ yang saat itu masih menjadi  suplemen  remaja SM. Dulu masih suka berpuisi-puisi gitu..hihi.. Kira-kira tahun berapa ya? 2001 kali ya? Lupa..hehe.. Lagi pula, bukti fisiknya juga sudah terbawa banjir.
Ketika mulai kuliah, keinginan menulisku menyurut. Aku terlalu khusu’ mendalami matematika. Namun, apa daya minat di bidang yang sebenarnya bukan pilihanku ternyata membawa bumerang yang menyesakkan. Setelah jatuh berkali-kali, akhirnya dengan semangat membara ku putuskan untuk kembali menulis sebagai pelarian (jahat ya?).
Akhirnya, aku menulis lagi. Menulis apa saja yang ku suka. Ternyata, SM masih bersahabat denganku. Ia masih menerimaku dengan lapang dada. Tulisan demi tulisan, memampangkan nama Anggrahini KD. Dan, Februari tahun lalu, ‘Tukulisme’ menjadi penghuni ‘Spot’. Gara-gara ‘Tukulisme’, sebuah forum kepenulisan menggaetku. Beberapa bulan kemudian, forum itu mendorongku untuk menulis buku.
Alhamdulillah, dalam waktu 1,5 bulan alias enam minggu, tujuh buku terproduksi dan akhirnya diterbitkan. Horray…
Berkonsentrasi pada penulisan novel dan proyek-proyek karya tulis, membuatku sedikit melupakan SM. Beberapa pembaca melayangkan ‘protes’. Karenanya, aku kembali lagi, meski frekuensinya tak sesering dulu.
Awal Februari lalu, dongengku yang berjudul ‘Kodi yang Tuli’ dimuat di Yunior (suplemen SM). Ku pikir biasa saja. Ternyata dongeng itu diapresiasi dalam sebuah blog. Katanya sih menginspirasi.. ^_^ Dan, terengtengteng… ternyata gara-gara dongeng itu, aku dapat sms yang menginformasikan ketertarikan membukukan kumpulan dongeng. Cihuyyyyy… InsyaAllah april mendatang terbit. Amin.
Ohya, tulisan inspirasi ‘Karena Mentah’ yang dimuat minggu kemarin juga berbuah manis. HP-ku menginformasikan keinginan penerbit untuk membukukan esai-esai inspirasiku. Semoga dalam waktu dekat buku itu sudah terpasang di rak toko buku.
Yup, walaupun sepertinya menulis melahirkan sesuatu yang enak-enak, tapi ternyata beberapa kali aku kesandung masalah juga. Beberapa minggu lalu ada yang terang-terangan menganggap tulisanku
melecehkan citra guru. Sebenarnya cuma misinterpretasi saja. Namun
agaknya ‘beliau’ lumayan emosional. Beberapa kali ada pihak yang tidak setuju, melayangkan protes,kadang juga mencaci. Tapi tak apa.
Begitulah, dunia tulis menulis (dengan segala manis-getirnya) telah memberi cahaya terang yang membuatku kembali optimis menata hidup. Karenanya, kuputuskan untuk meninggalkan matematika (meski banyak yang menganggap, itu adalah keputusan gila).
Welcome home, Anggrahini KD…

Suatu Hari di bulan Oktober (2003)

March 5th, 2008 by anggrahini-kd

Hari itu, tepatnya di sebuah senja yang muram, arak-arakan kamboja berkunjung ke rumahnya. Ada aku di sana, bahkan sejak bertahun sebelumnya. Dia pergi. Aku hanya menatapnya rela. Tanpa tangis setitik pun. Namun, siapapun tahu, ada yang hilang dari kehidupanku. Kehilangan yang sangat telak!
Dia adalah orang yang tak pernah henti ku sayangi. Aku memanggilnya Eyang Ti. Kanker ovarium yang terlambat terdeteksi telah memisahkanku darinya. Dia, setelah bertahun terpisah, namun masih rajin mengusap mimpiku dengan senyum yang selalu menentramkan. Ah, Eyang, hari ini, aku kembali mengingatmu dengan mata menahan basah. Tapi aku berjanji, Eyang, seperti yang sudah-sudah, aku akan menahan air mataku.
Eyang, barangkali kau sudah melupakan aku. Namun, begitu sulit aku menghapus ingatan tentangmu. Kangen, Eyang. Aku kangen.
Dia yang selalu mendengarkanku. Dia yang turut bersahabat dengan sahabat-sahabatku. Dia yang menatap antusias saat aku berkisah hal-hal sepele. Dia yang selalu memelukku setiap malam. Dia yang membelaku, saat semua orang (saat itu) menghujatku. Dan yang paling kuingat, dia yang memberi kasih sayang paling hebat dan melipatgandakan perhatiannya, karena aku tahu, dia sangat memahami diskriminasi yang menimpaku. Dia tahu di satu sisi kehidupan(masa kecil)ku, diskriminasi begitu akrab menyentuh. Namun, dia tak pernah membiarkan aku menangisinya. Dia yang mengganti semua kasih sayang yang tak mereka torehkan padaku. Dia yang menggantinya dengan lautan cinta yang kelak membangkitkan aku dari inferioritas.
Ah, Eyang, merindukanmu ternyata menyakitkan.
Selepas pertengahan Oktober 2003 itu, tak perlu menunggu waktu, satu per satu kebanggaanku tanggal. Dia pasti kecewa.
Kini, Eyang, setelah kekalahan demi kekalahan menghabisi, setelah kecurangan demi kecurangan menyakiti, dan setelah diskriminasi demi diskriminasi mempecundangi, aku berjanji;
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang menangisi kepergianmu.
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang putus asa tanpamu.
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang membiarkan dirinya diinjak-injak.
Kini, Eyang, saksikanlah cucumu berjuang!

Perempuan Pemimpi

March 5th, 2008 by anggrahini-kd

Ketika batasan gender salalu dipertanyakan… Salahkah?
Kadang aku ingin marah, mengapa sebagai seorang perempuan, aku sulit bernafas sekehendak hati. Toh aku tak hendak melibas batas. Aku hanya ingin bernafas, menghirup hak kehidupan yang boleh ku nikmati. Aku tak sedang menggugat, mengapa laki-laki memperoleh semua kebebasan, sedangkan aku tidak.
Bukan itu.
Aku hanya ingin bernafas. Mengisi kehidupanku dengan manfaat, ilmu, dan kebebasan sekadarnya. Berhari-hari, selalu ku rasakan sesak, melihat mereka berpesta pora mereguk hak-haknya sepuasnya. Keterbatasan ini, apakah disebabkan karena jenis kelaminku?
Barangkali aku terlalu banyak bermimpi. Terlalu tinggi menerbangkan harapan. Suatu waktu dalam hidupku, aku ingin menggapainya satu per satu. Impian-impian itu merayu melulu, sebagaimana mendung yang mengintimi laju hujan. Sebuah keniscayaan yang ku percaya bertahun-tahun.
Namun langkah kakiku, secepat apapun berlari, barangkali tak akan mampu membawaku terbang. Benar-benar terbang. Aku adalah perempuan. Aku selalu ingat; aku adalah perempuan.
Memang aku membenarkan, perempuan yang benar adalah perempuan yang telah demikian jelas terdeskripsikan dalam kitab suci yang tak mungkin ku sangkali. Perempuan yang benar adalah sebenar-benarnya perempuan.
Barangkali aku terlalu tercemar racun liberalis dan kapitalis. Atau terlalu lelap bermimpi.
Besok akan kau saksikan, mimpi-mimpi perempuan pemimpi itu akan mati. Sudah pasti akan ku tangisi. Namun, inilah yang seharusnya terjadi.