Archive for March, 2008

Blessing in Disguise

Tuesday, March 18th, 2008

Pagi itu, 16 Maret 2008… Cihuy2! Tulisanku tembus lagi di kolom inspirasi Suara Merdeka. Dua kali berturut-turut sejak rubrik itu di-launch! Jelas seneng bgt2 lah..Apa lagi lum ada ‘orang ketiga’ yang sempet mimpir ke situ. Makasih Om Daktur (Om Budi Maryono)..
Terus, kemarin aku sengaja ikut kuliah Jurnalistiknya Pak Gunawan Budi Susanto (Redaktur Senior SM). Jadi mahasiswa ilegal..hehe.. Ceritanya, pas lagi jalan2, di gazebo aku ngeliat ada perkuliahan yang lagi ngebahas hard news ma soft news gitu. Karena materinya asyik, akhirnya…ikutan ‘ngelesot’ menyusup di antara mahasiswa-mahasiswa resmi..huehehe..
Tapi… di akhir perkuliahan, kebenaran terkuak! Pak Gunawan tahu kalo aku bukan mahasiswanya. Untung beliau nggak marah. Malah, selepas perkuliahan kelar, beliau menyempatkan diri ngobrol ngalor-ngidul en sharing masalah kepenulisan. Pak Gun bilang, kalo saja aku mahasiswanya, pasti bakal dikasih nilai A. Hihi.. Padahal dosen Jurnalistikku yang asli (Pak Achiar, yang juga redaktur SM),  udah mau ngasih nilai A pula! Asyiiikkk… Dan, dari Pak Gunawan lah aku mendapatkan nomor telpon seorang redaktur SM yang membidangi halaman remaja.
Malamnya, tanpa menunggu waktu, aku call redaksi yang dimaksud. Masih sekedar silaturahmi en ngobrol yang ringan-ringan. Itung-itung brainstorming gitu. Tapi… besok Senin, aku diundang dateng ke kantor SM. Kira-kira bakal diapain ya???? hehe..
Yah, moga-moga aja targetku tahun ini tercapai! 10 bukuku diterbitkan en rajin mempublikasikan tulisan ke koran-koran, syukur-syukur dikasih ‘kapling’ sendiri di SM.. (berharap boleh dooong!)
Ohya, Sabtu kemarin aku udah setor naskah. Deadline tercapai. Insyaallah bentar lagi kumpulan dongeng terbit. Moga aja, yang lain segera menyusul secepatnya! Amiiiiin….

Habis Gelap Terbitlah Terang

Monday, March 10th, 2008

Minggu pagi 9 Maret 2008, loper koran datang membawa Si Perekat Komunitas Jawa Tengah alias Suara Merdeka. Seperti biasa, harian itu ku baca untuk menemani sarapan. Di halaman remaja, mataku menangkap ‘Anggrahini KD’ tercantum dalam rubrik paling gress ‘Inspirasi’. Cihuy… usul rubrikku diterima dan tulisanku langsung dilauncing saat itu juga… Horray… Trims banget, Suara Merdeka. Ternyata suaraku didengar!
Suara Merdeka  (SM) adalah media yang mengantarkan aku ke gerbang dunia kepenulisan.  Tulisan pertamaku termuat di  ‘Tren’ yang saat itu masih menjadi  suplemen  remaja SM. Dulu masih suka berpuisi-puisi gitu..hihi.. Kira-kira tahun berapa ya? 2001 kali ya? Lupa..hehe.. Lagi pula, bukti fisiknya juga sudah terbawa banjir.
Ketika mulai kuliah, keinginan menulisku menyurut. Aku terlalu khusu’ mendalami matematika. Namun, apa daya minat di bidang yang sebenarnya bukan pilihanku ternyata membawa bumerang yang menyesakkan. Setelah jatuh berkali-kali, akhirnya dengan semangat membara ku putuskan untuk kembali menulis sebagai pelarian (jahat ya?).
Akhirnya, aku menulis lagi. Menulis apa saja yang ku suka. Ternyata, SM masih bersahabat denganku. Ia masih menerimaku dengan lapang dada. Tulisan demi tulisan, memampangkan nama Anggrahini KD. Dan, Februari tahun lalu, ‘Tukulisme’ menjadi penghuni ‘Spot’. Gara-gara ‘Tukulisme’, sebuah forum kepenulisan menggaetku. Beberapa bulan kemudian, forum itu mendorongku untuk menulis buku.
Alhamdulillah, dalam waktu 1,5 bulan alias enam minggu, tujuh buku terproduksi dan akhirnya diterbitkan. Horray…
Berkonsentrasi pada penulisan novel dan proyek-proyek karya tulis, membuatku sedikit melupakan SM. Beberapa pembaca melayangkan ‘protes’. Karenanya, aku kembali lagi, meski frekuensinya tak sesering dulu.
Awal Februari lalu, dongengku yang berjudul ‘Kodi yang Tuli’ dimuat di Yunior (suplemen SM). Ku pikir biasa saja. Ternyata dongeng itu diapresiasi dalam sebuah blog. Katanya sih menginspirasi.. ^_^ Dan, terengtengteng… ternyata gara-gara dongeng itu, aku dapat sms yang menginformasikan ketertarikan membukukan kumpulan dongeng. Cihuyyyyy… InsyaAllah april mendatang terbit. Amin.
Ohya, tulisan inspirasi ‘Karena Mentah’ yang dimuat minggu kemarin juga berbuah manis. HP-ku menginformasikan keinginan penerbit untuk membukukan esai-esai inspirasiku. Semoga dalam waktu dekat buku itu sudah terpasang di rak toko buku.
Yup, walaupun sepertinya menulis melahirkan sesuatu yang enak-enak, tapi ternyata beberapa kali aku kesandung masalah juga. Beberapa minggu lalu ada yang terang-terangan menganggap tulisanku
melecehkan citra guru. Sebenarnya cuma misinterpretasi saja. Namun
agaknya ‘beliau’ lumayan emosional. Beberapa kali ada pihak yang tidak setuju, melayangkan protes,kadang juga mencaci. Tapi tak apa.
Begitulah, dunia tulis menulis (dengan segala manis-getirnya) telah memberi cahaya terang yang membuatku kembali optimis menata hidup. Karenanya, kuputuskan untuk meninggalkan matematika (meski banyak yang menganggap, itu adalah keputusan gila).
Welcome home, Anggrahini KD…

Suatu Hari di bulan Oktober (2003)

Wednesday, March 5th, 2008

Hari itu, tepatnya di sebuah senja yang muram, arak-arakan kamboja berkunjung ke rumahnya. Ada aku di sana, bahkan sejak bertahun sebelumnya. Dia pergi. Aku hanya menatapnya rela. Tanpa tangis setitik pun. Namun, siapapun tahu, ada yang hilang dari kehidupanku. Kehilangan yang sangat telak!
Dia adalah orang yang tak pernah henti ku sayangi. Aku memanggilnya Eyang Ti. Kanker ovarium yang terlambat terdeteksi telah memisahkanku darinya. Dia, setelah bertahun terpisah, namun masih rajin mengusap mimpiku dengan senyum yang selalu menentramkan. Ah, Eyang, hari ini, aku kembali mengingatmu dengan mata menahan basah. Tapi aku berjanji, Eyang, seperti yang sudah-sudah, aku akan menahan air mataku.
Eyang, barangkali kau sudah melupakan aku. Namun, begitu sulit aku menghapus ingatan tentangmu. Kangen, Eyang. Aku kangen.
Dia yang selalu mendengarkanku. Dia yang turut bersahabat dengan sahabat-sahabatku. Dia yang menatap antusias saat aku berkisah hal-hal sepele. Dia yang selalu memelukku setiap malam. Dia yang membelaku, saat semua orang (saat itu) menghujatku. Dan yang paling kuingat, dia yang memberi kasih sayang paling hebat dan melipatgandakan perhatiannya, karena aku tahu, dia sangat memahami diskriminasi yang menimpaku. Dia tahu di satu sisi kehidupan(masa kecil)ku, diskriminasi begitu akrab menyentuh. Namun, dia tak pernah membiarkan aku menangisinya. Dia yang mengganti semua kasih sayang yang tak mereka torehkan padaku. Dia yang menggantinya dengan lautan cinta yang kelak membangkitkan aku dari inferioritas.
Ah, Eyang, merindukanmu ternyata menyakitkan.
Selepas pertengahan Oktober 2003 itu, tak perlu menunggu waktu, satu per satu kebanggaanku tanggal. Dia pasti kecewa.
Kini, Eyang, setelah kekalahan demi kekalahan menghabisi, setelah kecurangan demi kecurangan menyakiti, dan setelah diskriminasi demi diskriminasi mempecundangi, aku berjanji;
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang menangisi kepergianmu.
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang putus asa tanpamu.
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang membiarkan dirinya diinjak-injak.
Kini, Eyang, saksikanlah cucumu berjuang!

Perempuan Pemimpi

Wednesday, March 5th, 2008

Ketika batasan gender salalu dipertanyakan… Salahkah?
Kadang aku ingin marah, mengapa sebagai seorang perempuan, aku sulit bernafas sekehendak hati. Toh aku tak hendak melibas batas. Aku hanya ingin bernafas, menghirup hak kehidupan yang boleh ku nikmati. Aku tak sedang menggugat, mengapa laki-laki memperoleh semua kebebasan, sedangkan aku tidak.
Bukan itu.
Aku hanya ingin bernafas. Mengisi kehidupanku dengan manfaat, ilmu, dan kebebasan sekadarnya. Berhari-hari, selalu ku rasakan sesak, melihat mereka berpesta pora mereguk hak-haknya sepuasnya. Keterbatasan ini, apakah disebabkan karena jenis kelaminku?
Barangkali aku terlalu banyak bermimpi. Terlalu tinggi menerbangkan harapan. Suatu waktu dalam hidupku, aku ingin menggapainya satu per satu. Impian-impian itu merayu melulu, sebagaimana mendung yang mengintimi laju hujan. Sebuah keniscayaan yang ku percaya bertahun-tahun.
Namun langkah kakiku, secepat apapun berlari, barangkali tak akan mampu membawaku terbang. Benar-benar terbang. Aku adalah perempuan. Aku selalu ingat; aku adalah perempuan.
Memang aku membenarkan, perempuan yang benar adalah perempuan yang telah demikian jelas terdeskripsikan dalam kitab suci yang tak mungkin ku sangkali. Perempuan yang benar adalah sebenar-benarnya perempuan.
Barangkali aku terlalu tercemar racun liberalis dan kapitalis. Atau terlalu lelap bermimpi.
Besok akan kau saksikan, mimpi-mimpi perempuan pemimpi itu akan mati. Sudah pasti akan ku tangisi. Namun, inilah yang seharusnya terjadi.