Habis Gelap Terbitlah Terang
Minggu pagi 9 Maret 2008, loper koran datang membawa Si Perekat Komunitas Jawa Tengah alias Suara Merdeka. Seperti biasa, harian itu ku baca untuk menemani sarapan. Di halaman remaja, mataku menangkap ‘Anggrahini KD’ tercantum dalam rubrik paling gress ‘Inspirasi’. Cihuy… usul rubrikku diterima dan tulisanku langsung dilauncing saat itu juga… Horray… Trims banget, Suara Merdeka. Ternyata suaraku didengar!
Suara Merdeka (SM) adalah media yang mengantarkan aku ke gerbang dunia kepenulisan. Tulisan pertamaku termuat di ‘Tren’ yang saat itu masih menjadi suplemen remaja SM. Dulu masih suka berpuisi-puisi gitu..hihi.. Kira-kira tahun berapa ya? 2001 kali ya? Lupa..hehe.. Lagi pula, bukti fisiknya juga sudah terbawa banjir.
Ketika mulai kuliah, keinginan menulisku menyurut. Aku terlalu khusu’ mendalami matematika. Namun, apa daya minat di bidang yang sebenarnya bukan pilihanku ternyata membawa bumerang yang menyesakkan. Setelah jatuh berkali-kali, akhirnya dengan semangat membara ku putuskan untuk kembali menulis sebagai pelarian (jahat ya?).
Akhirnya, aku menulis lagi. Menulis apa saja yang ku suka. Ternyata, SM masih bersahabat denganku. Ia masih menerimaku dengan lapang dada. Tulisan demi tulisan, memampangkan nama Anggrahini KD. Dan, Februari tahun lalu, ‘Tukulisme’ menjadi penghuni ‘Spot’. Gara-gara ‘Tukulisme’, sebuah forum kepenulisan menggaetku. Beberapa bulan kemudian, forum itu mendorongku untuk menulis buku.
Alhamdulillah, dalam waktu 1,5 bulan alias enam minggu, tujuh buku terproduksi dan akhirnya diterbitkan. Horray…
Berkonsentrasi pada penulisan novel dan proyek-proyek karya tulis, membuatku sedikit melupakan SM. Beberapa pembaca melayangkan ‘protes’. Karenanya, aku kembali lagi, meski frekuensinya tak sesering dulu.
Awal Februari lalu, dongengku yang berjudul ‘Kodi yang Tuli’ dimuat di Yunior (suplemen SM). Ku pikir biasa saja. Ternyata dongeng itu diapresiasi dalam sebuah blog. Katanya sih menginspirasi.. ^_^ Dan, terengtengteng… ternyata gara-gara dongeng itu, aku dapat sms yang menginformasikan ketertarikan membukukan kumpulan dongeng. Cihuyyyyy… InsyaAllah april mendatang terbit. Amin.
Ohya, tulisan inspirasi ‘Karena Mentah’ yang dimuat minggu kemarin juga berbuah manis. HP-ku menginformasikan keinginan penerbit untuk membukukan esai-esai inspirasiku. Semoga dalam waktu dekat buku itu sudah terpasang di rak toko buku.
Yup, walaupun sepertinya menulis melahirkan sesuatu yang enak-enak, tapi ternyata beberapa kali aku kesandung masalah juga. Beberapa minggu lalu ada yang terang-terangan menganggap tulisanku
melecehkan citra guru. Sebenarnya cuma misinterpretasi saja. Namun
agaknya ‘beliau’ lumayan emosional. Beberapa kali ada pihak yang tidak setuju, melayangkan protes,kadang juga mencaci. Tapi tak apa.
Begitulah, dunia tulis menulis (dengan segala manis-getirnya) telah memberi cahaya terang yang membuatku kembali optimis menata hidup. Karenanya, kuputuskan untuk meninggalkan matematika (meski banyak yang menganggap, itu adalah keputusan gila).
Welcome home, Anggrahini KD…