Perempuan Pemimpi
Ketika batasan gender salalu dipertanyakan… Salahkah?
Kadang aku ingin marah, mengapa sebagai seorang perempuan, aku sulit bernafas sekehendak hati. Toh aku tak hendak melibas batas. Aku hanya ingin bernafas, menghirup hak kehidupan yang boleh ku nikmati. Aku tak sedang menggugat, mengapa laki-laki memperoleh semua kebebasan, sedangkan aku tidak.
Bukan itu.
Aku hanya ingin bernafas. Mengisi kehidupanku dengan manfaat, ilmu, dan kebebasan sekadarnya. Berhari-hari, selalu ku rasakan sesak, melihat mereka berpesta pora mereguk hak-haknya sepuasnya. Keterbatasan ini, apakah disebabkan karena jenis kelaminku?
Barangkali aku terlalu banyak bermimpi. Terlalu tinggi menerbangkan harapan. Suatu waktu dalam hidupku, aku ingin menggapainya satu per satu. Impian-impian itu merayu melulu, sebagaimana mendung yang mengintimi laju hujan. Sebuah keniscayaan yang ku percaya bertahun-tahun.
Namun langkah kakiku, secepat apapun berlari, barangkali tak akan mampu membawaku terbang. Benar-benar terbang. Aku adalah perempuan. Aku selalu ingat; aku adalah perempuan.
Memang aku membenarkan, perempuan yang benar adalah perempuan yang telah demikian jelas terdeskripsikan dalam kitab suci yang tak mungkin ku sangkali. Perempuan yang benar adalah sebenar-benarnya perempuan.
Barangkali aku terlalu tercemar racun liberalis dan kapitalis. Atau terlalu lelap bermimpi.
Besok akan kau saksikan, mimpi-mimpi perempuan pemimpi itu akan mati. Sudah pasti akan ku tangisi. Namun, inilah yang seharusnya terjadi.