Suatu Hari di bulan Oktober (2003)

Hari itu, tepatnya di sebuah senja yang muram, arak-arakan kamboja berkunjung ke rumahnya. Ada aku di sana, bahkan sejak bertahun sebelumnya. Dia pergi. Aku hanya menatapnya rela. Tanpa tangis setitik pun. Namun, siapapun tahu, ada yang hilang dari kehidupanku. Kehilangan yang sangat telak!
Dia adalah orang yang tak pernah henti ku sayangi. Aku memanggilnya Eyang Ti. Kanker ovarium yang terlambat terdeteksi telah memisahkanku darinya. Dia, setelah bertahun terpisah, namun masih rajin mengusap mimpiku dengan senyum yang selalu menentramkan. Ah, Eyang, hari ini, aku kembali mengingatmu dengan mata menahan basah. Tapi aku berjanji, Eyang, seperti yang sudah-sudah, aku akan menahan air mataku.
Eyang, barangkali kau sudah melupakan aku. Namun, begitu sulit aku menghapus ingatan tentangmu. Kangen, Eyang. Aku kangen.
Dia yang selalu mendengarkanku. Dia yang turut bersahabat dengan sahabat-sahabatku. Dia yang menatap antusias saat aku berkisah hal-hal sepele. Dia yang selalu memelukku setiap malam. Dia yang membelaku, saat semua orang (saat itu) menghujatku. Dan yang paling kuingat, dia yang memberi kasih sayang paling hebat dan melipatgandakan perhatiannya, karena aku tahu, dia sangat memahami diskriminasi yang menimpaku. Dia tahu di satu sisi kehidupan(masa kecil)ku, diskriminasi begitu akrab menyentuh. Namun, dia tak pernah membiarkan aku menangisinya. Dia yang mengganti semua kasih sayang yang tak mereka torehkan padaku. Dia yang menggantinya dengan lautan cinta yang kelak membangkitkan aku dari inferioritas.
Ah, Eyang, merindukanmu ternyata menyakitkan.
Selepas pertengahan Oktober 2003 itu, tak perlu menunggu waktu, satu per satu kebanggaanku tanggal. Dia pasti kecewa.
Kini, Eyang, setelah kekalahan demi kekalahan menghabisi, setelah kecurangan demi kecurangan menyakiti, dan setelah diskriminasi demi diskriminasi mempecundangi, aku berjanji;
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang menangisi kepergianmu.
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang putus asa tanpamu.
Tidak akan ada lagi Anggrahini Kusuma Dewi yang membiarkan dirinya diinjak-injak.
Kini, Eyang, saksikanlah cucumu berjuang!

One Response to “Suatu Hari di bulan Oktober (2003)”

  1. AnGGrahini Says:

    Kehilangan adalah kepekaan yang terlambat!

Leave a Reply