Archive for May, 2008

sebuah paradoks dan persahabatan

Wednesday, May 14th, 2008

Semalam, sorak sorai bersahutan memenuhi ruang. Ada magnet di teve. Thomas Cup. Teriakan-teriakan yang bersahutan dan berujung kegembiraan menyambangi setiap rumah. Riuh dan ramai.
Ada seorang perempuan kesakitan di sudut kamarnya. Meringis sendirian, merintih tanpa kawan. Badminton telah menjadi ’simbol patriotisme’ yang terlalu membetot perhatian, hingga semua melupakan perempuan naas yang terpaksa menelan sakitnya seorang diri.
Di antara teriakan yang bising, ada kepala yang berdenyut-denyut mengibarkan bendera putih. Bendera putih yang ditenggelamkan gempita.
Perempuan itu terlalu enggan mengganggu keasyikan teman-temannya. Namun, alarm dalam dirinya terus berbunyi, menandakan pertahanan dirinya yang mulai runtuh.
Ia mengirim empat pesan singkat, dengan isi serupa, mengabarkan ‘kenaasan’ dirinya. SMS itu dikirimkan ke nomor-nomor sahabatnya yang dipilih secara acak. SOS. Barangkali ia tak butuh dibelai, atau dikasihani. Ia hanya ingin seseorang mendengar keluhnya. Hanya mendengar.
Sepuluh menit berlalu, tanpa jawaban satupun. Perempuan itu mencoba husnudzon. Barangkali sahabat-sahabatnya sedang sibuk, tidak ada pulsa, atau belum membuka pesannya.
Perut perempuan itu melilit. Ia baru ingat, dari siang tak ada secuil makanan yang menghampiri tenggorokannya. Kesibukan dan kecapekan telah menelan jadwal makan. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidur. Menenggelamkan diri dalam kesadaran tipis yang mungkin akan mereduksi sakitnya.
Baru sedetik ia memejam. Telepon berdering, ‘Aku di depan. Kamu keluar, ya?’. Bola matanya terbuka lebar. Ternyata Tuhan masih mengirimkan satu orang yang menyelamatkannya.
Sahabat yang datang, memang tidak membalas pesan singkatnya. Lebih dari itu, dia datang dan siap mendengarkan semua keluhan perempuan sakit yang sebelumnya sempat terabaikan. ‘Kawan, sakit adalah alarm. Ketika mulut enggan menyuara, sakitlah yang mewakilinya.’
Perempuan sakit itu tertawa gembira melihat sahabat masa kecil -yang sebenarnya sudah lama ‘terlupakan’- membawa sekantong makanan kesukaan.  Malam itu juga, perempuan naas itu melupakan  rasa sakit di perut dan kepalanya. Pun ’sakit-sakit yang tak pernah tersampaikan’.
‘Nggak nonton Thomas Cup?’ tanya perempuan itu. ‘Nggak. Aku nggak kenal Sonny Kuncoro, juga Taufik Hidayat.’ Perempuan, yang ternyata adalah aku, tersenyum tipis. ‘Kenapa nggak balas SMS aja?’
Sahabat cuma tertawa, ‘Bukan kebiasaanmu meminta bantuan. Jika itu sampai terjadi, artinya kamu membutuhkan lebih dari sekadar SMS.’

*Makasih, Sob… untuk Bakso Mbah Man, tertawamu, dan telingamu..

20 tahun… Sebentar lagi!

Wednesday, May 7th, 2008

"Siapa yang berhak menerima hadiah saat kamu berulang tahun nanti?" kata seorang kawan. Tentu aku! Dia tertawa. "Mengapa bukan ibumu?" Aku mengerutkan dahi. Mengapa ibuku?
Selama ini aku terlalu egois ternyata. Merasa berhak mendapatkan ‘imbalan’ atas milad yang menimpaku. Mengapa bukan ibuku? Bukankah tanpa pertaruhan nyawa beliau, barangkali aku tak ada? Bukankah dari plasentanya aku mengisap kehidupan dan tidur nyenyak di buaian rahimnya selama berbulan-bulan?
Adalah ibuku. Yang nyaris meregang nyawa demi kehadiranku di dunia. Bukankah beliau lebih berhak?