20 tahun… Sebentar lagi!
"Siapa yang berhak menerima hadiah saat kamu berulang tahun nanti?" kata seorang kawan. Tentu aku! Dia tertawa. "Mengapa bukan ibumu?" Aku mengerutkan dahi. Mengapa ibuku?
Selama ini aku terlalu egois ternyata. Merasa berhak mendapatkan ‘imbalan’ atas milad yang menimpaku. Mengapa bukan ibuku? Bukankah tanpa pertaruhan nyawa beliau, barangkali aku tak ada? Bukankah dari plasentanya aku mengisap kehidupan dan tidur nyenyak di buaian rahimnya selama berbulan-bulan?
Adalah ibuku. Yang nyaris meregang nyawa demi kehadiranku di dunia. Bukankah beliau lebih berhak?