Lahirnya Bidadri Senja
Aku jatuh. Tentu saja sakit. Tapi aku mencoba bangkit. Jika hari ini aku ditakdirkan menjadi pecundang, ku harap aku mampu menjadi pecundang yang paling gagah. Karenanya, aku menarik nafas panjang dan bertahan dari kesakitan. Aku akan bangun! Aku bisa bangun. Persetan dengan luka-luka itu! Arrgh, tubuhku luruh, tapi aku tak mau jatuh. Aku akan tetap berusaha bangun. Sakit, tapi kuabaikan. "Ada apa dengan pundakmu?" seseorang bertanya, dan seketika aku menyadarinya. Aku punya sayap!
Aku lupa dengan luka-luka. Senja di barat telah mengantarkan bayang-bayang kembali pulang. Sudah waktunya memecah cangkang inferioritas. Sudah waktunya merangkak keluar dari jebakan kesakitan itu. Aku tak mau malam memadamkanku. Senja boleh berlalu, malam boleh datang sepanjang waktu, tapi mataku akan tetap menyalakan matahari.
Aku mengepakkan sayap. Tidak ada yang mengajariku terbang, namun intuisi membantuku untuk menyalakan obor-obor keyakinan. Aku punya sayap. Tidak ada alasan untuk mengabaikannya!
Kau bilang, intuisi tak punya pondasi. Bahkan, kau acap kali abai dengan kata hati yang ku teriakkan. Aku meredam ketidakberdayaanku menghadapimu. Hanya saja, aku tidak akan membiarkanmu memelihara luka-luka itu. Aku akan menjadi bidadari senja yang menyembuhkanmu…
Aku dan kamu satu dalam diriku. Aku dan kamu adalah aku; pecundang paling gagah yang belajar menjadi bidadari…